Little Information about Self Medication (Swamedikasi)


Assalamu ‘Alaikum, lama tak jumpa dan lama ndak ngepost. Post kali ini berhubungan dengan apa yang sedang dan akan saya jalani, yupz tentang farmasis. Berhubung praktikum Farmasetik Lanjutan minggu ini adalah “Swamedikasi” maka saya akan sedikit berbagi apa yang saya ketahui. Dalam tulisan ini, saya tidak menjelaskan secara detail tapi lebih ke garis besarnya saja. Harapan dan tujuannya adalah agar para teman Farmasis “Pemula” atau pun “Non” Farmasis dapat sedikit mendapat pengetahuan tentang apa itu Swamedikasi. Soalnya pelajaran tentang ini lebih lengkap baru akan dipelajari pada Study Profesi Apoteker. Sasaranya sih untuk teman-teman Beginner Farmasis n Non Farmasis

Teman-teman farmasis pasti atau mungkin sering diserang pertanyaan, “apa obatnya klo (…)?”,  atau mungkin tentang saran atau informasi tentang obat dari keluarga atau teman dekatnya anda, malu donk klo ndak bisa jawab …😀 yAH, itu lah yang sering saya alami, dari dulu (waktu SMK di YAMASI) sampai sekarang, kuliah dan Insya Allah akan segera lulus dan lanjut lagi supaya tambah pintar dalam menangkis semua serangan yang datang …😀😀😀 Tapi yah namanya ada orang yang minta bantuan kita harus bantu, klo ada yang bertanya harus di jawab semampunya. atau terkadang kalau ragu saya buka buku atau searching, terkadang balik tanya sama teman atau senior yang menurut ku tau tentang hal tersebut. ^^Image

 

Nah, jika ada yang seperti demikian itu namanya Swamedikasi. Swamedikasi bisa diartikan sebagai upaya atau usaha seseorang untuk menyembukan dirinya sendiri atau self medication lah seperti tu. Intronya kepanjangan, So, let’s read!!! Semua bermanfaat …

Image

Self Care dapat diartikan sebagai proses dimana seseorang dapat berfungi secara efektif terhadap dirinya dalam promosi kesehatan dan pengambilan keputusan dalam pencegahan, deteksi, dan pengoatan penyakit pada level awal dalam sistem kesehatan. Sedangkan Swamedikasi (Self Medication) menurut  WHO adalah pemilihan dan penggunaan obat baik obat modern maupun obat tradisional oleh seseorang untuk melindungi diri dari penyakit dan gejalanya. Walaupun aktifitas Self Care dapat berupa test payudara, tes kehamilan, atau exercise yang lainnya yang sederhana, namun kenyataannya yang paling sering adalah Self Care treatment with medication.

Dalam hal ini pasien memiliki keuntungan baik untuk dirinya karena tidak memerlukan biaya tambahan untuk pergi ke tempat pelayanan kesehatan seperti RS, Puskesmas atau Klinik. Adanya peningkatan derajat pendidikan, kesadaran akan kesehatanan, tersedianya informasi tentang kesehatan, peningkatan biaya kesehatan, perkembangan teknologi dan alat-alat monitoring merupakan beberapa faktor meningkatnya Self Care.

Konsumen/pasien memerlukan bantuan dalam membuat keputusan terhadap Swamedikasi karena bila tidak dilakukan dengan tepat dan benar dapat menimbulkan masalah baru, seperti tidak sembuhnya penyakit atau muncul penyakit baru.

Dalam melakukan Swamedikasi, terdapat banyak faktor penentu yang mempengaruhi pasien sebelum memutuskan menggunakan suatu produk obat pada saat mengalami gejala sakit diantaranya adalah persepsi atas suatu penyakit, iklan, akses, kebiasaan/pengalaman, takut pada dokter, keterampilan, dukungan orang-orang sekitar misalnya keluarga, teman atau tenaga kesehatan.

Image

Untuk mengetahui kebenaran Swamedikasi dapat digunakan indikator sebagai berikut :

  1. Tepat obat, pemilihan obat hendaknya sesuai dengan keluhan yang dirasakannya dan mengetahui kegunaan obat yang diminum.
  2. Tepat golongan, hendaknya menggunakan obat yang termasuk golongan obat bebas dan bebas terbatas.
  3. Tepat dosis, menggunakan obat secara benar meliputi cara pemakaian, aturan pakai dan jumlah obat yang digunakan.
  4. Tepat waktu (lama pengobatan), mengetahui kapan harus menggunakan obat dan batas waktu menghentikannya untuk segera meminta pertolongan tenaga medis jika keluhannya tidak berkurang.
  5. Waspada efek samping, mengetahui efek samping yang timbul pada penggunaan obat sehingga dapat mengambil tindakan pencegahan serta mewaspadainya. Selain efek samping, juga perlu diperhatikan tentang interaksi dan kontra indikasi obat.

Sesuai permenkes No.919/MENKES/PER/X/1993, kriteria obat yang dapat diserahkan tanpa resep:

  1. Tidak dikontraindikasikan untuk penggunaan pada wanita hamil, anak di bawah usia 2 tahun dan orang tua di atas 65 tahun.
  2. Pengobatan sendiri dengan obat dimaksud tidak memberikan risiko pada kelanjutan penyakit.
  3. Penggunaannya tidak memerlukan cara atau alat khusus yang harus dilakukan oleh tenaga kesehatan
  4. Penggunaannya tidak memerlukan cara atau alat khusus yang harus dilakukan oleh tenaga kesehatan
  5. Penggunaannya diperlukan untuk penyakit yang prevalensinya tinggi di Indonesia
  6. Obat dimaksud memiliki rasio khasiat keamanan yang dapatdipertanggungjawabkan untuk pengobatan sendiri

Jenis obat yang dapat digunakan yakni :

  1. Tanpa resep dokter  atau Over The Counter (OTC):
    1.  obat bebas tak terbatas, tanda lingkaran hitam, dasar hijau

 Image

          B.  obat bebas terbatas, tanda lingkaran hitam, dasar biru 

Image 2. Obat Wajib Apotek (OWA) merupakan obat keras yang bisa diserahkan tanpa resep dokter, tanda: lingkaran hitam, dasar merah 

Image3. Suplemen makanan

4. Herbal/Jamu

Sumber untuk mendapatkan obat-obatan tersebut bisa bermacam-macam, seperti di Apotek, Toko Obat, Super/Minimarket, Warung dan yang lainnya. Sedangkan literatur untuk mendapatkan informasi lebih lanjut tentang obat-obatan dapat dilihat dalam buku ISO dan MIMS atau melalui internet. Bahkan pada buku MIMS terdapat beberapa konseling atau petunjuk untuk pengobatan beberapa penyakit (Petunjuk Konsultasi). Jika sakit berlanjut atau semakin memburuk setelah tiga hari, disarankan untuk segera berkonsultasi dengan dokter.

Image

Beberapa kondisi yang yang dikategorikan sebagai kondisi yang dapat diatasi yakni batuk, demam, dermatitis, diare, flu, infeksi bakteri topikal, insomnia, jerawat, konjungtivitis, konstipasi, nyeri, nyeri artritis, “panas dalam”, penanganan kegemukan, penurunan kolesterol, sariawan dan wasir.

Peran Farmasis dalam Swamedikasi

Konsumen memerlukan bantuan dalam membuat keputusan terhadap self treatment. Farmasis adalah orang yang ideal dalam membantu konsumen memilih obat yang aman dan efektif dalam mengobati penyakit yang dideritanya.

Farmasis pada umumnya tidak memiliki pengetahuan, keterampilan atau raining dalam diagnosa. Akan tetapi farmasis dapat melakukan fungsi skrining. Dengan melihat gejala-gejala dan dengan petimbangan berbagai faktor, seorang farmasis dapat membedakan antara gejala-gejala yang

  1. mengindikasikan penyakit serius yang memerlukan penanganan dokter dan
  2. mengindikasikan kondisi self timing yang hanya memerlukan pengobata simtomatik.

Dengan pertimbangan ini farmasis dapat memutuskan apakah seorang pasien yang datang harus dirujuk ke dokter, diberi saran untuk tidak perlu menerima pengobatan atau saran untuk melakukan swamedikasi.

Bagaimana Menyediakan Layanan Swamedikasi?

Untuk dapat memilih produk obat dengan baik maka diperlukan sumber informasi yang baik pula. Dalam konteks obat-obatan non resep (OTC) terdapat dua macam sumber informasi yaitu pada etiket/label produk dan iklan produk tersebut. Dengan mendapatkan informasi yang benar maka pasien dapat melakukan swamedikasi dengan lebih bertanggung jawab. Disini diperlukan farmasis dalam meberikan professional advice untuk melengkapi  informasi yang terdapat pada label dan iklan produk yang seringkali kurang lengkap.

Di dalam melayani keperluan swamedikasi tentu tidak lepas dari aktivitas menanggapi gejala atau keluhan pasien maupun nama produk kepada farmasis. Oleh karena itu, keterampilan di dalam menanggapi gejala sangatlah diperlukan. Hal ini diperlukan untuk menentukan apakah gejala yang dikeluhkan harus dirujuk ataukah cukup dengan direkomendasikan suatu produk OTC. Dalam menanggapi gejala yang dikeluhkan pasien, dapat digunakan metode WWHAM yakni :

  1. Who is it for? Untuk siapa?
  2. What are the symptoms? Apa gejalanya?
  3. How long has the symptoms ocured? Berapa lama gejala tersebut terjadi?
  4. Action being taken already? Tindakan yang telah dilakukan?
  5. Medicines for other conditions? Obat yang dipakai untuk kondisi yang lain?

Tulisan diatas, diambil dari berbagai sumber. Materi tentang Swamedikasi atau pun tentang obat-obat banyak kok berserakan di Internet. Sekian untuk kesempatan kali ini, thanks untuk yang sudah baca ^^, maaf karena masih sangat tidak lengkap. jika ada pertanyaan, saran, arahan atau koreksiaan silahkan dikolom “Komentar”.

Image

Time Slip


Subuh ini adalah subuh pertama aku Shalat Subuh di Mesjid setelah 19 hari Ramadhan telah berlalu. Alasannya hanya satu, malas. Sebenarnya hari ini pun demikian, akan tetapi mengingat bahwa Ramadhan akan segera berakhir, jadi aku paksakan diri ku.

Dari lantai dua rumah mama dan bapak yang dari kayu, aku teriak “ma mau kie pergi ke Mesjid?”. Iya jawabnya. Segera aku ke kamar mandi untuk sikat gigi dan cuci muka, juga berwudhu tentunya. Sedikit lagi Adzan, aku tau itu. Dengan tergesa-gesa aku ambil alat Shalat ku.

Keluar dari pintu rumah, dinginnya angin pagi menusuk tulangku. Sedikit lagi, Adzan. Ku pandang langit, penuh bintang, ada bulan yang tidak lagi bulat penuh tinggal setengah diatas sana.

Tak sengaja, aku terlempar ke masa lalu, masa dimana aku dan sekerumunan gadis-gadis kecil berlari melawan dinginnya Subuh hanya untuk pergi ke Mesjid di seberang jalan. Beberapa tahun yang lalu di Mangkoso tepatnya di Pondok Pesantren DDI-AD Mangkoso.

Tiap Subuh, wajib bagi santriwati Pon-Pes DDI-AD Mangkoso untuk shalat berjamah di Mesjid. Kalau tidak salah aku bertugas untuk membangunkan teman kamar ku, Kamar A12 Asrama (Aduh aku lupa, maklumlah). Tak satu pun dari mereka yang Ikhlas bangun dari ranjangnya.

Biasanya, mereka tidak langsung ke sumur untuk siap-siap ke Mesjid, kecuali jika Adzan sudah benar-benar dikumandangkan. Pasti kami semua aka lari terbirit-birit, tiba di Mesjid dan shalat ngos-ngosan seperti diburu anjing. Masbuk, itulah yang kami takuti atau yang paling parah adalah terlambat sama sekali. Bagaimana tidak Masbuk saja akan dapat hukuman apalagi tidak ke Mesjid tanpa alasan yang jelas. Mau tidak mau yah harus mau.

Gambar

Di setiap kamar ada seorang santriwati yang ditugaskan untuk mengabsen jadwal Shalat kami. Yang berhalangan, masbuk, sakit dan alfa atau mungkin tidak ikut shalat berjamaah.

Shalat Subuh di Mangkoso punya sensasi yang berbeda, entah apa itu. Biasanya setelah shalat, beberapa dari kami tidak langsung pulang ke Asrama, maklum kami tidak bebas berkeliaran diluar area Pondok Pesantren. Harus minta izin dulu, itu pun waktunya terbatas. Kalau hari jumat, akan lebih parah kami (yang malas) akan dengan sengaja pulang lebih pagi dari yang lain, alasanya agar tidak dapat bagian membersihkan. Biasanya yang terlambat pulang hanya aka bertugas untuk buang sampah, simple kan. Dibandingkan dengan harus menyapu, mengepel, angkat air, hingga bersihkan atap kamar karena banyak sarang laba-laba.

*Kembali Ke hari ini

Sepeluh hari terakhir Ramadhan dan ini untuk pertama kalinya aku Shalat Subuh di Mesjid. Lumayan banyak jamaahnya, tidak seperti perkiraanku. Adzan Subuh pun berkumandang dan kami semua pun Shalat. Saat berdoa, mataku perih, dadaku sesak, kelenjar mukus pun bekerja lebih dari biasanya dan pipiku basah karena tetesan air (bukan karena atapnya bocor yah). Aku terharu, teringat kenangan bersama teman-teman di Pesantren dulu.

Selalu mengeluh tidak tahan dengan sistem, kangen dengan suasana di kampung, bosan terkurung di asrama dan lelah dengan semua aturan serta hafalan tapi sekarang aku merindukan mereka semua

Air yang keluar dari mataku semakin banyak, karena tidak ada tissu, mukena pun jadi sasaran. Doa telah selesai, cepat-cepat ku hapus air mataku (malu donk diliat nangis, banyak orang).

Keluar dari Mesjid, langit yang penuh dengan bintang dan bulan yang tak lagi bulat penuh, tinggal setengahnya masih ada disana. Terima kasih untuk kalian semua, terima kasih untuk semua kenangan yang kalian berikan. Terima kasih untuk hari-hari yang penuh kenangan selama kurang lebih empat tahun bersama kalian. Teman yang terbaik tak tergantikan dan tak ada samanya.

*Kau akan selalu bersama dengannya, selama kenangan itu masih ada*

Kamu memang tak lagi ada bersama ku seperti dulu tapi kenangan itu akan selalu ada bersama ku sebagai pengganti dirimu. Dimana pun kalian sekarang berada, aku harap semoga Allah SWT selalu melindungimu, semoga kalian dalam keadaan yang baik lahir dan batin.

=) Untuk semua teman seperjuangan ku di Pondok Pesantren DDI-AD Mangkoso, seAsrama ku, seKamar A12 ku, seKelas ku dan seMuanya.

=) Terima kasih juga untuk semua yang ada di Pondok Pesantren DDI-AD Mangkoso. Tempat yang tidak akan pernah aku lupakan, (meskipun saat aku Amnesia (*May be))

**Mohon maaf jika ada kesalahan pengetikan, soalnya DeadLine🙂

Sunset With You


Gambar-gambar ini aku ambil pada saat berlibur bersama salah satu kawan ku di Cileleng Kab.Barru tepatnya tanggal 18 Juni 2011 yang lalu.

Niat utama aku datang ke Barru adalah untuk mendatangi acara Penamatan tahunan yang diadakan oleh  tempat aku dulu mondok yakni PONPES DDI-AD Mangkoso. Kata pepatah, sambil menyelam minum air, yacht skalian aja silaturahmi ke rumah kawan yang ada di Barru.

Pantai ini terletak dibelakang rumah Hasna, salah satu kawan ku di UMI yang tinggal diCileleng Barru. Pantai ini bersih dan tidak ramai di kunjungi oleh banyak orang seperti pantai-pantai yang ada di Makassar pada umumnya. Sehingga pantai ini bersih dan sunyi. Jadinya, aku dan Vathe senang sekali main di pantai ini.

Kita berdua, khususnya vathe sangat senang. Sambil menikmati aroma air laut, belaian angin pantai, deru ombak, serta menunggu matahari terbenam kita ambil gambar dulu donk …

Memang asyik menghabiskan waktu bersama teman-teman tapi pasti nya lebih nikmat kalau bersama dengan pasang kita

Udah malam, saatnya pulang  untuk istirahat

Misteri Ghoist (Hujan)


Bumi kita terdiri atas dua per tiga air. Air ada dimana-mana, di samudra, lautan sungai, kali, parit, bak mandi, bahkan di tubuh kita. Air ini akan mengalami penguapan oleh sinar matahari. Uap air juga bisa berasal dari transpirasi tumbuhan dan hewan, juga manusia. Uap air ini selanjutnya terkumpul di udara lalu mengalami kondensasi (pemadatan). Dari hasil kondensasi ini kita bisa melihat awan. Awan-awan itu akan bergerak ke tempat yang berbeda dengan bantuan hembusan angin baik secara vertikal maupun horizontal. Gerakan angin vertikal ke atas menyebabkan awan bergumpal. Gerakan angin tersebut menyebabkan gumpalan awan semakin membesar dan saling bertindih-tindih. Akhirnya gumpalan awan berhasil mencapai atmosfir yang bersuhu lebih dingin. Di sinilah butiran-butiran air dan es mulai terbentuk. Lama-kelamaan angin tidak dapat lagi menopang beratnya awan dan akhirnya awan yang sudah berisi air ini mengalami presipitasi atau proses jatuhnya hujan air, hujan es dan sebagainya ke bumi.

Hujan tidak hanya turun berbentuk air dan es saja, namun juga bisa berbentuk embun dan kabut. Hujan yang jatuh ke permukaan bumi jika bertemu dengan udara yang kering, sebagian hujan dapat menguap kembali ke udara. Hujan besar memiliki kecepatan jatuhnya air yang tinggi sehingga terkadang terasa sakit jika mengenai anggota badan kita.

Dijelaskan pula proses terjadinya hujan dalam Al-Quran diantaranya yakni sebagai berikut :
أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يُزْجِي سَحَابًا ثُمَّ يُؤَلِّفُ بَيْنَهُ ثُمَّ يَجْعَلُهُ رُكَامًا فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلَالِهِ وَيُنَزِّلُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ جِبَالٍ فِيهَا مِنْ بَرَدٍ فَيُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَصْرِفُهُ عَنْ مَنْ يَشَاءُ يَكَادُ سَنَا بَرْقِهِ يَذْهَبُ بِالْأَبْصَارِ

Artinya:
Tidakkah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian) nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan ke luar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan. (QS. An Nur/24:43)

Allah terangkan fenomena awan dengan perlahan-lahan dalam tahapan yang memberikan peluang perenungan pada setiap tahapan terjadinya hujan. Proses yang detail itu agar mampu menyentuh jiwa dan menyadarkannya, merenungkan tadbir (rekayasa) Allah yang ada di balik semua fenomena.
Hanya Allah yang menggiring awan dari satu tempat ke tempat lainnya, menyebar dan mengumpulkannya. Ketika sudah tebal tersusun dari sekian banyak lapisan barulah keluar air, dan turunlah hujan lebat. Awan yang menggumpal bagaikan gunung-gunung besar di atas angkasa. Dan dalam awan itu terdapat pula kristal-kristal salju.

Menyaksikan fenomena awan bagaikan gunung sangat jelas nyata bagi orang yang berada di atas peshallallaahu ‘alaihi wa sallamat terbang. Peshallallaahu ‘alaihi wa sallamat itu terbang di atas gumpalan-gumpalan awan, menembus atau menerobos di sela-selanya. Fenomenanya menjadi gunung sungguhan bukan seperti gunung. Al Qur’an menceriterakan awan dengan penggambaran hakiki yang dapat dibuktikan dengan mata kepala.
Gunung-gunung di atas angkasa itu hanya patuh kepada Allah SWT. Ia akan berarak sesuai dengan arah yang Allah kehendaki, dan menghidar dari yang arah yang Allah tidak kehendaki. Dengan awan dan hujan Allah merahmati manusia dan dengan awan dan hujan itu pula Allah pernah menurunkan azab-Nya.
اللَّهُ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ فَتُثِيرُ سَحَابًا فَيَبْسُطُهُ فِي السَّمَاء كَيْفَ يَشَاء وَيَجْعَلُهُ كِسَفًا فَتَرَى
لْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلَالِهِ فَإِذَا أَصَابَ بِهِ مَن يَشَاء مِنْ عِبَادِهِ إِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُونَا
Artinya :
“Dialah Allah Yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendakiNya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat air hujan keluar dari celah-celahnya; maka, apabila hujan itu turun mengenai hamba-hambaNya yang dikehendakiNya, tiba-tiba mereka menjadi gembira” (QS Ar-Ruum/30:48)

Gelembung-gelembung udara yang jumlahnya tak terhitung yang dibentuk dengan pembuihan di lautan, pecah terus-menerus dan menyebabkan partikel-partikel air tersembur menuju langit. Partikel-partikel ini, yang kaya akan garam, lalu diangkut oleh angin dan bergerak ke atas di atmosfir. Partikel-partikel ini, yang disebut aerosol, membentuk awan dengan mengumpulkan uap air di sekelilingnya, yang naik lagi dari laut, sebagai titik-titik kecil dengan mekanisme yang disebut “perangkap air”.

Awan-awan terbentuk dari uap air yang mengembun di sekeliling butir-butir garam atau partikel-partikel debu di udara. Karena air hujan dalam hal ini sangat kecil (dengan diamter antara 0,01 dan 0,02 mm), awan-awan itu bergantungan di udara dan terbentang di langit. Jadi, langit ditutupi dengan awan-awan.
Partikel-partikel air yang mengelilingi butir-butir garam dan partikel -partikel debu itu mengental dan membentuk air hujan. Jadi, air hujan ini, yang menjadi lebih berat daripada udara, bertolak dari awan dan mulai jatuh ke tanah sebagai hujan.

Turunnya Hujan, Salah Satu Waktu Terkabulnya Do’a

Ibnu Qudamah dalam Al Mughni, 4/342 mengatakan, “Dianjurkan untuk berdo’a ketika turunnya hujan, sebagaimana diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Carilah do’a yang mustajab pada tiga keadaan: [1] Bertemunya dua pasukan, [2] Menjelang shalat dilaksanakan, dan [3] Saat hujan turun.” (Dikeluarkan oleh Imam Syafi’i dalam Al Umm dan Al Baihaqi dalam Al Ma’rifah dari Makhul secara mursal. Dishohihkan oleh Syaikh Al Albani, lihat hadits no. 1026 pada Shohihul Jami’)
Begitu juga terdapat hadits dari Sahl bin Sa’d, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Dua orang yang tidak ditolak do’anya adalah: [1] ketika adzan dan [2] ketika rapatnya barisan pada saat perang.” Dalam riwayat lain disebutkan, “Dan ketika hujan turun.” (HR. Abu Daud dan Ad Darimi, namun Ad Darimi tidak menyebut, “Dan ketika hujan turun.” Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani. Lihat Misykatul Mashobih)

Mensyukuri Nikmat Turunnya Hujan

Apabila Allah memberi nikmat dengan diturunkannya hujan, dianjurkan bagi seorang muslim untuk membaca do’a,
اللَّهُمَّ صَيِّباً ناَفِعاً
“Ya Allah, turunkanlah hujan yang bermanfaat.”

Itulah yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ucapkan ketika melihat hujan turun. Hal ini berdasarkan hadits dari Ummul Mukminin, Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala melihat hujan turun, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan ‘Allahumma shoyyiban nafi’an’. (HR. Bukhari, Ahmad, dan An Nasai). Yang dimaksud shoyyiban adalah hujan. (Lihat Al Jami’ Liahkamish Sholah, 3/113, Maktabah Syamilah dan Zaadul Ma’ad, I/439, Maktabah Syamilah)

Tatkala Terjadi Hujan Lebat

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam suatu saat pernah meminta diturunkan hujan. Kemudian tatkala hujan turun begitu lebatnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a,
الْأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ وَبُطُونِ وَالْجِبَالِ وَالظِّرَابِ عَلَيْنَا اللَّهُمَّ عَلَى الْآكَامِ اللَّهُمّ حَوَالَيْنَا وَلَا
“Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami. Ya Allah, turukanlah hujan ke dataran tinggi, gunung-gunung, bukit-bukit, perut lembah dan tempat tumbuhnya pepohonan.” (HR. Bukhari no. 1013 dan 1014). Oleh karena itu, saat turun hujan lebat sehingga ditakutkan membahayakan manusia, dianjurkan untuk membaca do’a di atas. (Lihat Al Jami’ Liahkamish Sholah, 3/114, Maktabah Syamilah)

Mengambil Berkah dari Air Hujan

Anas radhiyallahu ‘anhu berkata, “Kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah kehujanan. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyingkap bajunya hingga terguyur hujan. Kemudian kami mengatakan, ‘Ya Rasulullah, mengapa engkau melakukan demikian?’ Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لأَنَّهُ حَدِيثُ عَهْدٍ بِرَبِّهِ تَعَالَى
“Karena dia baru saja Allah ciptakan.” (HR. Muslim no. 2120)

An Nawawi dalam Syarh Muslim, 6/195, makna hadits ini adalah bahwasanya hujan itu rahmat yaitu rahmat yang baru saja diciptakan oleh Allah ta’ala, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertabaruk (mengambil berkah) dari hujan tersebut. Kemudian An Nawawi mengatakan, “Dalam hadits ini terdapat dalil bagi ulama syafi’iyyah tentang dianjurkannya menyingkap sebagian badan (selain aurat) pada awal turunnya hujan, agar terguyur air hujan tersebut. Dan mereka juga berdalil bahwa seseorang yang tidak memiliki keutamaan, apabila melihat orang yang lebih mulia melakukan sesuatu yang dia tidak ketahui, hendaknya dia menanyakan untuk diajari lalu dia mengamalkannya dan mengajarkannya pada yang lain.” (Lihat Syarh Nawawi ‘ala Muslim, 6/195, Maktabah Syamilah)

Do’a Setelah Turunnya Hujan

Ketika muncul mendung, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu khawatir, jangan-jangan akan datang adzab dan kemurkaan Allah. Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata,
كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رَأَى نَاشِئاً فِي أُفُقٍ مِنْ آفَاِق السَمَاءِ، تَرَكَ عَمَلَهُ- وَإِنْ كَانَ فِي صَلَاةٍ- ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْهِ؛ فَإِنْ كَشَفَهُ اللهُ حَمِدَ اللهَ، وَإِنْ مَطَرَتْ قَالَ: “اللَّهُمَّ صَيِّباً نَافِعاً”
Artinya
”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila melihat awan (yang belum berkumpul sempurna, pen) di salah satu ufuk langit, beliau meninggalkan aktivitasnya –meskipun dalam shalat- kemudian beliau kembali melakukannya lagi (jika hujan sudah selesai, pen). Ketika awan tadi telah hilang, beliau memuji Allah. Namun, jika turun hujan, beliau mengucapkan, “Allahumma shoyyiban nafi’an” [Ya Allah jadikanlah hujan ini sebagi hujan yang bermanfaat].”

MENGENAI GUNTUR/PETIR DAN KILAT

Ar Ra’du (petir) adalah suara yang didengar dari awan. Sedangkan Ash Showa’iq (kilat) adalah api (cahaya) yang muncul dari langit bersamaan dengan suara petir yang keras. (Rosysyul Barod, 381, Darud Da’i Linnashri wat Tawzii’)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan, “Dalam hadits marfu’ (sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, pen) pada riwayat At Tirmidzi dan selainnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang petir, lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,
مَلَكٌ مِنْ الْمَلَائِكَةِ مُوَكَّلٌ بِالسَّحَابِ مَعَهُ مخاريق مِنْ نَارٍ يَسُوقُ بِهَا السَّحَابَ حَيْثُ شَاءَ اللَّهُ
“Petir adalah malaikat yang diberi tugas mengurus awan dan bersamanya pengoyak dari api yang memindahkan awan sesuai dengan kehendak Allah.”

Begitu juga ketika Ali ditanya, sebagaimana dikatakan Al Khoroithi dalam Makarimil Akhlaq. Beliau radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Petir adalah malaikat, dan suaranya itu adalah pengoyak di tangannya.” Dan dalam riwayat lain dari Ali juga, “Suaranya itu adalah pengoyak dari besi di tangannya.”

Do’a Ketika Mendengar Petir

Dari ‘Ikrimah mengatakan bahwasanya Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma tatkala mendengar suara petir, beliau mengucapkan,
سُبْحَانَ الَّذِي سَبَّحَتْ لَهُ
‘Subhanalladzi sabbahat lahu’ (Maha suci Allah yang petir bertasbih kepada-Nya). Lalu beliau mengatakan, “Sesungguhnya petir adalah malaikat yang meneriaki (membentak) untuk mengatur hujan sebagaimana pengembala ternak membentak hewannya.” (Lihat Adabul Mufrod no. 722, dihasankan oleh Syaikh Al Albani)
Di balik fenomena ini, Allah mengajarkan prinsip-prinsip iman. Firman Allah:
وَهُوَ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ حَتَّى إِذَا أَقَلَّتْ سَحَابًا ثِقَالًا سُقْنَاهُ لِبَلَدٍ مَيِّتٍ فَأَنْزَلْنَا بِهِ الْمَاءَ فَأَخْرَجْنَا بِهِ مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ كَذَلِكَ نُخْرِجُ الْمَوْتَى لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

Artinya:
Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu berbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran. (QS. Al A’raf/7:57)

Semoga bermanfaat

http://imamuna.wordpress.com
http://muslim.or.id
http://sayaberitahu.blogspot.com/2011/05/fakta-pembentukan-hujan-dalam-al-quran.html

dan lain” (^.^)

ANTELMENTIK


Hampir tidak ada kelompok obat lain yang telah mengalami perubahan mendasar pada abad terakhir seperti obat cacing. Hampir semua preparat yang dulu digunakan dapat digantikan dengan zat berkhasiat lain yang lebih spesifik dan kurang toksik. Antelmentik atau obat cacing adalah obat yang digunakan untuk memberantas atau mengurangi cacing dalam lumen usus atau jaringan tubuh. Kebanyakan obat cacing efektif terhadap satu macam cacing, sehingga diperlukan diagnose tepat sebelum menggunakan obat tertentu. Diagnose ditegakkan dengan menemukan cacing, telur cacing dan larva dalam tinja, urin, sputum, darah atau jaringan lain penderita.

Terdapat tiga golongan cacing yang menyerang manusia yaitu nematode, trematoda, dan cestoda. Peran infeksi cacing sangat berarti karena sekitar 600 juta manusia menderita askariasis, sekitar 400 juta menderita ankilostomiasis dan sekitar 200 juta menderita skistisimiasis. Pada umumnya cacing jarang menimbulkan penyakit serius, tetapi dapat menyebabkan gangguan kesehatan kronis yang merupakan suatu factor ekonomis sangat penting. Di Negara-negara berkembang termasuk Indonesia, penyakit cacing adalah penyakit rakyat umum yang sama pentingnya dengan misalnya malaria atau TB. Infeksinya pun dapat terjadi simultan oleh nenerapa jenis cacing sekaligus. Diperkirakan bahwa lebih dari 60% anak-anak di Indonesia menderita suatu infeksi cacing.

Infeksi cacing umumnya terjadi melalui mulut, adakalanya langsung melalui luka di kulit (cacing tambang dan benang), atau lewat telur (kista) atau larvanya yang ada dimana-mana dia atas tanah. Apalagi bila pembuangan kotoran (tinja) dilakukan di sembarang tempat (system roil terbuka) dan tidak memenuhi syarat higien. Terutama pada anak-anak yang lazimnya belum mengetahui azaz higien mudah sekali terinfeksi. Jumlah cacing merupakan faktor yang menentukan apakah orang tersenut menjadi sakit atau tidak. Prosedur esensial untuk menentukan diagnose infeksi cacing ini adalah dengan melalui pemeriksaan mikroskopik dari telur atau larvanya dalam tinja, urin, darah dan jaringan. Penentuan ini adalah penting sekali karena daya kerja obat cacing kebanyakan terhantung dari jenis parasitnya.

Gejala dan keluhan dapat disebabkan oleh efek toksik dari produk-produk pertukaran zat cacing, penumbatan usus halus, dan saluran empedu (obstruksi), atau penarikan zat-zat gizi yang penting bagi tubuh. Sering kali gejalanya tidak nyata dan hanya berupa gangguan lambung-usus, mual, muntah, kejang-kejang, dan diare berkala dengan hilangnya nafsu makan (anoreksia).pada sejumlah cacing penghisap darah maka tuan rumaha kan mengalami anemia misalnya cacing tambang, pita, dan cambuk. Sedangkan sebagian orang tidak memberikan keluhan atau menunjukkan gejala cacingan sama sekali, misalnya pada orang-orang pembawa cacing atau telur/kistanya (carriers).

Tindakan umum yang perlu dilakukan adalah menjaga kebersihan dengan tegas dan konsekuen, terutama oleh anak-anak. Yang terpenting diantaranya adalah

ü>  selalu mencuci tangan sebelum makan atau sebelum mengolah bahan makanan

ü>  jangan memakan sesuatu yang telah jatuh di tanah tanpa mencucinya terlebih dahulu

Dengan demikian infeksi melalui mulut yang paling sering terjadi dapat dihindari. Selanjutnya untuk pemberantasan infeksi cacing perlu diambil tindakan-tindakan higien umum yang mencakup perbaikan perumahan, lingkungan hidup, dan kemajuan social-ekonomi.

a.       Obat-obat pengobatan Nematoda

Nematode adalah cacing bulat panjang yang mempunyai system pencernaan yang baik, termasuk mulut dan anus. Cacing ini menyebabkan infeksi pada anus, darah dan jaringan.

No.

ISTILAH LATIN

ISTILAH INDONESIA

KARAKTERISTIK

1. Ascaris lumbricoides Cacing gelang Panjang jantannya sekitar 15cm; betinanya 25-40cm; telur kuning dengan diameter 40-60µm
2. Entererobius
(Oxyuris) vermicularis
Cacing kremi Panjang jantannya sekitar 2-6mm; betinanya 8-12mm; telur diletakkan dilipatan-lipatan anus
3. Ancylostoma duodenale Cacing kait (cacing tambang) Panjang jantannya 8-11mm; betinanya 8-12mm; kapsul mulut dengan 2 pasang gigi
4. Necator americanus Cacing tambang Mirip dengan Ancylostoma; pada kapsul mulut tidak terdapat gigi melainkan 2 pelat pemotong
5. Wuchereria (Filaria) bancrofti Cacing filaria Panjang jantan 0,3-4cm; betinanya 0,5-10cm; cacing betina dan jantan seringkali ditemukan tergulung bersama dalam system limfe manusia
6. Onchocerca volvulus Cacing filaria afrika Panjang jantan 2-45cm; batinanya sampai 50cm; cacing dewasa secara aseksual tergulung bersama dalam nodus jaringan ikat subkutan
7. Trichinella spirallis Cacing daging Panjang jantan sekitar 1,5mm; betinanya 3mm; betinanya secara vivipar akan menghasilkan sekitar 2000 larva
8. Trichuris trichiura Cacing cambuk Panjang jantan 35-45mm; betinanya 40-50mm; ujung akhir pada betina ada penebalan

1. Piperazin

Piperazin menyebabkan blockade respon otot cacing terhadap asetilkolin sehingga terjadi paralisis dan cacing mudah dikeluarkan oleh peristatltik usus. Cacing biasanya keluar 1-3 hari setelah pengobatan dan tidak perlu pencahar untuk mengeluarkan cacing. Penyerapan piperazin melalui saluran pencernaan. Sebagian obat yang diserap mengalami metabolism, sisanya dieskresi melalui urin. Berkhasiat pada askirasis dan enterobiasis.

Dosis harian adalah dua kali 35mg/Kg (dihitung sebagai piperazinheksahidrat) selama dua sampai tiga hari. Efek samping biasanya nausea, muntah, gangguan lambung-usus tapi umumnya jarang terjadi.pada pasiane yang mengalami kerusakan serebral seirng terjadi serangan kejang serta ataksia sebentar dan gangguan penglihatan.

Obat Paten : Tasnon, Vermicompren

2. Pirantel Pamoat

Pirantel pamoat dan analognya menimbulkan depolarisasi pada otot cacing dan meningkatkanfrejuensi implus, sehingga cacing mati dalam keadaan spastic. Obat ini juga berefek menghambat enzim kolinesterase yang dapat meningkatkan kontraksi otot pada askaris. Obat pilihan pada askariasis, oksiuris serta penyakit cacing Ancylostoma duodenale dan Necator americanus. Dari saluran cerna absorbsinya hanya sedikit. Ekskresi sebagian vesar bersama tinja dan kurang dari 15% bersama urin dalam bentuk utuh dan metabolitnya.

Untuk terapi askariasis dan oksiuris dosis sekali diberikan 10mg/Kg basa pirantel. Pada serangan cacing kait Amerika digunakan dosis harian 10mg/Kg tiga hari berturut-turut. Efek samping yang kadang-kadang timbul yaitu muntah dan diare. Obat ini tidak boleh diberikan pada wanita hamil dan anak usia dibawah 2 tahun. Karena kerja yang berlawan maka tidak boleh digunakan bersamaan dengan piperazin. Penggunaan harus hati-hati pada pasein dengan riwayat penyakit hati.

Obat Paten : Helmex, Combantrin, Helmitrin, Piraska, Trivexan, Wormetrin

3. Tiabendazol

Mekanisme kerja belum diketahui. Di samping hambatan fumarat reduktase yang spesifik pada cacing, juga ditunjukkan adanya blockade pembebasan asetilkolin esterase cacing. Tiabendazol cepat diserap melalui usus dan kadar puncak obat dalam darah dicapai dalam waktu 1 jam. Dalam 1 hari 90% oabt ini disekresikan bersama urin dalam bentuk hidroksi dan terkonjugasu. Obat ini juga dapat diserap oleh kulit. Zat ini merupakan antelmentik spectrum luas, disamping dipakai untuk penanganan askariasis dan enterobiasis juga merupakan obat pilihan terhadap Strongyloides dan Trichinella serta terhadap Trichuris.

Pengaturan dosis sehari dua kali 25mg/Kg selama tiga hari. Efek samping yang dapat terjadi adalah pusing, sakit kepala, bingung, muntah, gangguan saluran cerna serta kadang-kadang telinga berdenging dan gangguan pengaturan darah yang hipotonik. Konta indikasi pada anak dengan berat dibawah 15kg, aktivitas yang memerlukan kewaspadaan, hati-hati pada gangguang fungsi hati atau ginjal, sebaiknya pakailah obat alternative, dan hipersensitivitas.

Obat Paten : Minzolum,

4. Mebendazol

Mebendazol menyebabkan kerusakan struktur subselular dan menghambat sekresi asetilkolinesterase cacing. Serta menghambat ambilan glukosa secara irreversible sehingga terjadi pengosongan (deplesi) glikogen pada cacing. Cacing akan mati sacara perlahan-lahan dan hasil terapi yang memuaskan baru Nampak 3 hari setelah pemberian obat. Obat ini menimbulkan sterilitas pada telur cacing T.trichiura, cacing tambang, dan askaris sehingga telur gagal berkembang menjadi larva. Tetapi larva yang sudah matang tidak dapat dipengaruhi oleh Mebendazol. Pada pemberian oral absorbsinya buruk, dieksresikan mealui urin dan metabolit sebagai hasil dekarboksilasi dalam tempo 48 jam. absobsi mebendazol akan meningkat jika diberikan bersama dengan makan berlemak. Merupakan pilihan pada serangan cacing Trichuris.

Pengaturan dosis yaitu sehari dua kali 100mg selama tiga hari berturut-turut. Efek samping dari zat yang ditolerasi dengan baik adalah kadang-kadang ada keluhan pada usus. Obat ini tidak dianjurkan pada wanita hamil pada trimester pertama juga penderita yang alergi mebendazol, dan untuk anak dibawah umur 2 tahun perlu pertimbangan yang benar.

Obat Paten : Vermox, Gavox, Trivexan, Vercid

5. Dietilkarbamazin

Ada dua cara kerja obat ini terhadap mikrofiliaria yakni pertama dengan menurunkan aktivitas otot akibatnya parasit seakan-akan mengalami paralisis dan meudah terusir dari tempatnya yang normal dalam tubuh hospes dan yang kedua menyebabkan perubahan pada permukaan membrane microfilaria sehingga lebih mudah dihancurkan oleh daya pertahanan tubuh hospes. Obat ini cepat diabsobsi oleh usus. Setelah pemberian dosis tunggal oral sebanyak 200-400mg kadar puncak dalam darah dicapai dalam waktu 1-2 jam.distribusi obat ini merata ke seluruh jaringan kecuali jaringan lemak. Dalam waktu 30 jam obat dieksresikan bersama urin, 70% dalam bentuk metabolitnya, pada pemakaian berulang dapat menimbulkan sedikit kumulasi. Digunakan terutama pada filaria.

Pada filariasis dosis sehari 3 kali 2mg/Kg samapi tidak terdeteksi lagi adanya microfilaria dalam darah. Sebagai efek samping dapat timbul reaksi radang alergi akibat parasit yang mati. Di samping itu juga terjadi sakit kepala, pusing, tremor, ataksia dan kejang.

Obat Paten : Hetrazan, Filarzan

6. Ivermektin

Cara kerja obat ini dengan memperkuat peranan GABA pada proses transmisi di saraf tepi, sehingga cacing mati pada keadaan paralisis. Obat berefek terhadap microfilaria di jaringan dan embryogenesis pada cacing betina. Pada pemberian oral dan memiliki half life 10-12 jam. Eksresinya sebagian besar bersama feses dan hanya 2% lewat urin. Obat ini tak dapat melewati sawar otak (BBB). Obat ini merupakan pilihan utama untuk mengobati Onchocerciasis dan efek juga terhadap strongyloidosis.

Dosis tunggal 200µm/Kg, obat ini efektivitasnya setara dengan dietilkarbamazin dalam memberantas mikrofilia di jaringa kulit dan rongga mata bagian depan. Ivermectin juga merupakan obat alternative untuk pasien yang tahan atau tak mempan dengan thiabendazole. Pada wanita hamil, jangan diberikan bersamaan dengan barbiturate, benzodiazepine dan asam valproat.

7. Pirvinium-pamoat

Merupakan zat yang dapat ditolerasikan juga dengan baik dan sangat berkhasiat sebagai obat Oksiuris. Kerjanya berdasarkan hambatan enzim untuk metabolism karbohidrat dalam oksiuris. Senyawa ini diberikan dalam dosis 5mg/Kg basa pirivinum

Obat Paten : Molevac,

8. Befenium Hidroksinaftoat

Obat ini menyebabkan paralisis otot cacing karena kepekaan terhadap astilkolin hilang dan efek ini tidak reversible. Penyerapannya di usus hanya sedikit dan dalam waktu 24 jam tidak lebig dari 0,5% yang dikeluarkan bersama urin. Tidak menunjukkan efek samping yang serius, mual dan muntah mungkin disebabkan karena rasanya yang pahit. Defekasi lembek sementara mungkin timbul. Efektif terhadap A.duodenale tetapi penggunaannya telah digeser, juga efektif tehdap cacing gelang dan T.Orientalis pada T.trichiura obat ini memperlihat kan efek yang lumayan. Dosis optimal untuk dewasa 5g dan utnuk anak-anak dengan berat badan dibawah 22Kg diberikan 2,5g pada infestasi Namericanus diperlukan waktu 3 hari berturut-turut, bula disertai diare pada infestasi cacing tambang pengobatan perlu diberikan selama 5-7 hari. Diberikan secara oral waktu perut kosong sesudahnya penderita tidak boleh makan paling sedikit selama 2 jam.

b.      Obat-obat pengobatan Trematoda

Trematoda merupakan cacing pipih berbentuk daun, digolongkan sesuai jaringan yang diinfeksi. Misalnya sebagi cacing isap hati, paru, usus, atau darah. Biasanya juga disebut dengan skistosoma. Schistosoma merupakan penyebab penyakit bilharziasis, suatu penyakti yang luas penyebarannya dibagian dunia yang beriklim panas.

Bilharziasis saluran urin yang disebabkan oleh Schitosoma haematobium berkembang sabagai sistis hemoragik, kadang-kadang timbul pertumbuhan seperti papiloma. Bilharziasis usu yang disebabkan Schistosoma mansoni atau japonicum timbul dalam bentuk colitis dengan diare parah dan kemudian dapat membentuk plip dan sirosis hati.

No.

ISTILAH LATIN

ISTILAH INDONESIA

KARAKTERISTIK

1. Schistosoma haematobium Blasen-Parchenegel Panjang jantan 7-12mm; betinanya 10-16mm; telur dari Schistosoma haematobium mempunyai duri akhir
Schistosoma mansoni duri sisi dan pada

Schistosoma japoniucm kait di sisi

2. Schistosoma mansoni Darn-Parchenegel
3. Schistosoma japoniucm Japanischer-Parchenegel
  1. Prazikuantel

In vitro, prazikuantel diambil secara cepat dan reversible oleh cacing tatapi tidak dimetabolisme. Kerjanya cepat melalui dua cara, yang pertama pada kadar efektivterendah menimbulkan peningkatan aktivitas otot cacing karena hilangnya Ca ion intra sel sehingga timbul kontraktur dan paralisis spastic yang reversible yang memungkinkan mengakibatkan terlepasnya cacing dari tempatnya yang normal pada hospes, yang kedua pada dosis yang tinggi mengakibatkan vakuolisasi dan vesikulasi tegument cacing, sehingga isi cacing keluar, mekanisme pertahanan tubuh hospes dipacu dan terjadi kehancuran cacing.

Pada pemberian oral, absobsinya baik. Kadar maksimal dalam darah tercapai dalam waktu 1-2 jam. Metabolism obat berlangsung cepat melalui proses hidroksilasi dan konyugasi sehingga kadar metabolitnya dalam plasma kira-kira 100 kali kadar praziuantel dan waktu paruhnya 1,5 jam. Dieskresi bersama urin dalam tempo 24 jam dan hanya sedikit dalam tubuh.

Pada Schitosoma haematobium dan mansoni dosis tunggal 40mg/Kg sudah mencukupi, pada Schitosoma japonicum perludua kali pemebrian 30mg/Kg. karena cara pemakaian yang mudah, aktivitas yang tinggi, dan toleransi yang baik maka zat ini menjadi pilihan utama. Efek samping termasuk mengantuk, pusing, lesu, tidak mau makan, dan gangguan pencernaan. Tidak boleh diberikan ada wanita hamil atau menyusui.

Obat Paten : Biltricide, Cesol, Cysticide

2. Metrifonat

Merupakan inhibitor kolinesterase dari kelompok organofosfat. Hanya berkhasiat terhadap Schistosoma haematobium. Dosisnya adalah pemberian tunggal 7,5 samapi 10mg/Kg oral dengan tiga kali pengulangan dalam jarak 2-4 minggu. Efek samping dalam dosis terapeutiknya jarang terjadi. Pada timbulnya gejala keracunan dapat diberikan atropine sebagai antidote.

Obat Paten : Bilarcil,

  1. Niridazol

Efek Niridazol terlihat pertama sbagai kerusakan gonad schistosoma, cacing betina lebih peka dibandingkan cacing jantan. Efek terhadap cacing ini memerlukan reduksi gugus nitro dari niridazol dan obat yang reaktif ini kemungkinan membentuk ikatan kovalen dengan makromolekul Schistosoma mansoni. Obat ini juga mengurangi respon radang terhadap infeksi D.medinensis dan deposit telur S.mansoni di jaringan. Efek ini mungkin terjadi karena terbentuknya metabolit niridazol yang menekan rekasi imun selular. Bekerja baik pada Schistosoma haematobium, kurang baik terhadap Schistosoma mansoni dan hamper tak bekerja terhadap Schistosoma japonicum.

Diabsorbsi seluruhnya bebrapa jam, mengalami metabolism lintas awal di hati sehingga kadarnya dalam plasma rendah. Kadar puncak plasma tercapai sesudah 6 jam. Ekskresinya terutama dalam bentuk metabolit melalui urin dan tinja yang menimbulkan warna kehitaman dan berbau.

Dosisnya adalah 25mg/Kg tiap hari selama satu minggu. Efek samping yang dapat timbul adalah gangguan saluran cerna, sakit kepala, pusing. Pada pasien dengan penyakit hati karena naiknya kadar dalam darah terjai bahaya halusinasi dan kejang seperti epilepsy.

Obat Paten : Ambilhar,

3. Oksamnikuin

Cara kerja dari obat ini belum diketahui tatapi pada pengobatan dengan oksamnikuin cacing akan berpindah daru pembuluh mensenterika ke hati dalam beberapa hari. Kemudian cacing betina yang berhasil tetap hidup akam kembali ke pembuluh mesenterika tanpa jantannya dan tidak bertelur. Cacing jantan menetap di hati, sebagian besar akan mati. Obat ini memperlihatkan efek terhadap cacing dewasa dan larva dan merupakan obat terpilih untuk Schistosoma mansoni sedangkan untuk Schistosoma japonicum dan Schistosoma haematobium kurang efektif.

Oksamnikum segera diserap setelah pemberian oral. Adanya mekanan dapat menghambat terjadinya absobsi sehingga mengurnagi kadar yang dicapai dalam plasma, metabolism terjadi secara intensif sehingga sabagian besar obat diekskresikan dalam bentuk metabolit bersam urin.

Dosis tunggal adalah 12,5-15mg/Kg. Efek samping biasanya pusing dan kantuk merupakan paling sering dilaporkan. Kejang terjadi pada beberapa penderita terutama yang mempunyai riwayat epilepsy kerena itu obat ini dikontraindikasikan pada penderita epilepsy. Serta pada penderita gagal jantung, gagal ginjal, dan wanita hamil.

Obat Paten : Mansil,

c.       Obat-obat pengobatan Taenia/Cestoda

Taenia atau Cestoda atau cacing pita, betubuh pipih, bersegmen dan melekat pada usu hospes. Sama dengan trematoda, cacing pita tidak mempunyai mulut dan usus selama siklusnya.      

No.

ISTILAH LATIN

ISTILAH INDONESIA

KARAKTERISTIK

1. Taenia saginata Cacing Pita Sapi Panjang 7-8m; tidak ada lingkaran kait pda kepala; alat penghisap berbentuk elips
2. Taenia solium Cacing Pita Babi Panjang 2-5m; lingkaran kait pada kepala; alat penghisap bulat
3. Didhyllobothrium latum Cacing Pita Ikan Pnjang 2-8m; kepala dengan 2 lubang untuk menghisap; ruas pertama batasnya tak jelas
  1. Niklosamida

Efek Niklosamida mungkin terjadi dengan cara menghambat proses pembentukan energy pada cacing. Cacing yang dipengaruhi akan dirusak sehingga skoleks dan segmen dicerna dan tidak dapat ditemukan ladi dalma tinja. Niklosamida sedikit sekali diserap dan hampir bebas dari efek samping kecuali sedikit keluhan sakit perut. Bahkan cukup aman untuk wanita hamil dan penderita yang dengan keadaan umum buyruk. Nikosamid tidak mengganggu fungsi hati, ginjal dan darah, juga tidak mengiritasi lambung. Karena cacing pita tidak dibunuh maka pada serangan Taenia solium untuk mencegah terjadinya sistiserkosis 1-2 jam setelah penggunaan niklosamid diberikan laksansia agar sisa-sisa cacing keluar sebelum dicerna. Merupakan obat pilihan untuk Taenia saginata, Didhyllobothrium latur dan H.nana.

Pengaturan dosis dewasa dan anak-anak diatas 6 tahun mendapat 2g sekali, anak-anak usia 2-6 tahun 1g Niklosamida. Efek samping kecali kadang-kadang keluhan lambung-sus, tidak ada.

Obat Paten : Yomesan,

2. Prazikuantel

Obat cacing pita lain yang juga berkhasiat terhadap Schistosoma. Setelah pemberian oral zat ini diabsobsi dengan cepat. Waktu plasma terletak antara 1-1,5 jam. Ekskresi terutama terjadi melalui ginjal dalam bentuk metabolit. Dosis tunggal adalah 10-15mg/Kg dengan dosis yang lebih tinggi dan penanganan yang lebih lama  (50mg/Kg selama 15 hari) dengan prazikuantel dapat juga diobati sistiserkosis yaitu dengan sistiserka (bentuk muda hermafrodit) dari cacing pita babi dalam jaringan. Yang terutama penting adalah terapi neurosistiserkosis yang membahayakan jiwa (Serangan sistiserka pada otak).

3. Diklorofen

Obat ini efektif untuk cacing pita besar yang terdapt pada manusia dan hewan peliharaan. Cara kerjanya belum diketahui dengan jelas. Segera setelah obat diberikan maka skoleks oleh usus, sehingga segmen cacing nya yang matang susah atau sedikit ditemukan dalam tinja. Oleh karena itu terapi sulit ditentukan.

Diklorofen tablet mengandung 0,5g zat aktif secara oral dengan 3 kali 2-3g tiap 8 jam (anak 1-2g) sesudah terapi tidak diperlukan pencahar karena metabolit obat ini memberikan efek pencahar yang adekuat , selain itu pemberian pencahar justru mengurangi waktu kontak obat dengan skoleks. Efek samping biasanya kolik, mual, muntah, diare yang berlangsung 4-6jam. Kadang-kadang timbul urtikaria tetapi hilang setelah 24 jam. Dikontraindikasiakan pada penderita penyakit hepar dan bula efek pencahar tidak diinginkan seperti kehamilan tua, Penyakit yang disertai demam dan penyakit jantung berat.

DAFTAR PUSTAKA

Ganiswarna, G. Sulistia. 1995. Farmakologi dan Terapi. Fakultas Kedokteran-Universitas Indonesia. Jakarta

Hoan, T. Tjay. 1987. Obat-Obat Penting. PT Elex Media Komputindo Kelompok Gramedia. Jakarta

Mutschler, Ernst. 1991. Dinamika Obat Edisi V. ITB. Bandung

Mycek, J. Mary. 2001. Faramkologi Ulasan Bergambar. Widya Medika. Jakarta

^Klik Me^

Antibiotik > Antagonis Folat


Antibiotik adalah zat kimia yang dihasilkan oleh mikroorganisme dan jamur yang berkhasiat untuk menghambat perkembangbiakan atau membunuh mikroorganisme. Antibakteri atau antimikroba adalah substansi yang dapat menghambat pertumbuhan atau membunuh bakteri atau mikroorganisme seperti virus, jamur, protozoa, riketsia, dan lain-lain. Keduanya berfungsi sama tetapi bahan asalnya berbeda.

Antibacterial dikelompokkan menjadi 9 jenis yaitu:

  1. Penisilin
  2. Sefalosporin
  3. Makrolid
  4. Tetrasiklin
  5. Kloramfenikol
  6. Peptide dan sulfonamide
  7. Vankomisin
  8. Linkomisid
  9. Aminoglikosida

Berdasarkan asal bakterinya dikelompokkan menjadi :

  1. Antibakteri alamiah (diperoleh langsung dari alam)
  2. Antibacterial semisintetik
  3. Antibacterial sintetik

Berdasarkan mekanisme kerjanya yakni :

  1. Menghambat sintesis dinding sel dengan cara mematikan bakteri (bakterisidal) dengan cara memecah dan menghambat sintesa enzim
  2. Mengubah permeabilitas membrane sel dengan cara bekterisidal dan bakteriostatik dengan cara sel lisis karena hilangnya sustansi seluler
  3. Menghambat sintesa protein dengan cara memberikan efek bakterisidal dan bakteriostatik dengan cara menghambat tahap-tahap sintesis protein pada sel kuman tanpa mempengaruhi sel normal tubuh
  4. Mengganggu metabolisme sel dengan cara bakteriostatik dengan cara mengganggu tahap metabolism sel

Koenzim asam folat diperlukan untuk sintesis purin dan pirimidin (precursor DNA dan RNA) dan senyawa-senyawa lain diperlukan untuk pertumbuhan seluler dan replikasi. Bila sama folat tidak ada sel-sel tidak dapat tumbuh atau membelah.

Bakteri tidak dapat mengabsopsi asam folat, tetapi harus membuat asam folat dari PABA (Asam Paraaminobenzoat), pteridin, dan glutamate. Untuk manusia, asam folat merupakan suatu vitamin. Kita tidak dapt menyintesis asam folat. Hal tersebut menyebabkan jalur metabolic ini menjadi suatu target yang baik dan selektif untuk senya-senyawa antimikroba.

Mekanisme kerja obat-obat antagonis folat terbagi atas penyekat sintesis folat (Sulfonamida), penyekat reduksi folat (Trimetropim), penyekat sintesis dan reduksi folat (Kombinasi antara sulfonamide dan trimetropim/kotrimoksasol).

  1. SULFONAMIDA

Sulfonamide berupa Kristal putih yang umumnya sukar larut dalam air tetapi garam natriumnya mudah larut. Sulfonamide mempunyai spectrum bakteri yang luas, meskipun kurang kuat dibandingkan dengan antibiotic dan strain mikroba yang resisten makin meningkat. Golongan obat ini umumnya bersifat bakteriostatik, namun pada kadar yang tinggu dalam urin dapat bersifat bakterisid.

Mekanisme Kerja

Kuman memerlukan PABA untuk membentuk asam folat yang digunakan untuk sintesis purin dan asam-asam nukleat. Sulfonamide merupakan penghambat bersaing PABA. Efek antibakteri sulfonamide dihambat oleh adanya darah, nanah, dan jaringan nekrotik karena kebutuhan mikroba akan asam folat berkurang dalam media yang mengandung basa purin dan timidin. Dalam proses sintesis asam folat, bila PABA digantikan oleh sulfonamide maka akan terbentuk analog asam foalt yang tidak fungsional.

Farmakokinetik

Absorbsi melalui saluran cerna mudah dan ceapt, kecuali beberapa macam sulfonamide yang khusus digunakan untuk infeksi local pada usus. Kira-kira 70-100% dosis oral sulfonamide diabsopsi melalui saluran cerna dan dapat ditemukan dalam urin 30 menit setelah pemberian. Absorpsi terutama terjadi di usus halus, tetapi beberapa jenis sulfa dapat diabsorpsi melalui lambung.

Distribusi pada semua sulfonamide terikat pada protein plasma terutama albumin dalam derajat yang berbeda. Obat ini trsebar ke seluruh jaringan tubuh, karena itu berguna untuk infeksi sistemik. Kadar taraf CSS (Cairan serebropsinal) otak mencapai 10-80% dari kadar dalam darah, pada meningitis kadar ini lebih tinggi lagi.

Metabolisme dalam tubuh, sulfa mengalai asetilasi dan oksidasi. Hasil oksidasi inilah yang sering menyebabkan reaksi toksis sistemik berupa lesi pada kulit dan gejala hipersensitivitas, sedangkan asetilasi menyebabkan hilangnya aktivitas obat. Bentuk asetil pada N-4 merupakan metabolit utama, dan beberapa sulfonamide yang terasetilisasi lebih sukar larut dalam air sehingga sering meyebabkan kristaluria atau komplikasi ginjal lainnya.

Ekskresi melalui ginjal, baik dalam bentuk asetil maupun bentuk bebas. Masa paruh sulfonamide tergantung pada keadaan fungsi ginjal sebagian kecil disekresikan melalui tinja, empedu dan air susu ibu.

Indikasi Dan Kriteria Penggunaan

Akibat meningkatnya galur bakteri yang resistensi dan pengembangan antibiotika yang manjur, penggunaan sulfonamide sudah jauh bekurang. Sulfonamide masih digunakan antara lain pada infeksi saluran urin, ulkus molle, dan bersama diamino-benzilpirimidin pada berbagai penyakit.

Sulfonamide tidak tepat untuk virus. Pada tiap pengobatan harus diperhatikan untuk indikasi yang tepat. Penggunaan local harus dihindari karena bahaya sensibilisasi terutama penanganan beberapa infeksi mata, seperti trachoma.

Penggunaan Dosis

  1. Sulfonamide kerja singkat rata-rata digunakan 50-100 mg/kg bobot badan per hari secara oral
  2. Sulfonamide kerja sedang rata-rata digunakan 25-50 mg/kg bobot badan per hari secara oral
  3. Sulfonamide kerja panjang rata-rata digunakan 10-20 mg/kg bobot badan per hari secara oral

Efek Samping

Reaksi yang tidak dapat diterima oleh tubuh seperti tak ada nafsu makan,  nausea, rangsangan muntah, dan lain-lain. Kerusakan ginjal disertai dengan hematuria, albuminuria, oliguria, atau anuria. Alergi dan hipersentitivitas.

Kontra Indilkasi

Sulfonamide tidak digunakan pada : penyakit ginjal, insufisiensi jantung, porfiria akut, defisiensi bawaan dari glukosa-6-fosfat-dehidrigenase, kerusakan parenkim hati, hipersensitivitas terhadap sulfonamide, wanita hamil, dan bayi yang baru lahir.

Sediaan Dipasaran

  1. Sulfonamide kerja singkat
    1. Sulfakarbamida        : Euvernil
    2. Sulfafurazol             : Gantrisin
    3. Sulfisomidin                        : Aristamid, Elkosin
    4. Sulfonamida kerja sedang
      1. Sulfadiazine                        : sulfadiazine Heyl, komponen dari preparat kombinasi dengan tetraksoprim
      2. Sulfametoksasol      : komponen dari preparat kombinasi dengan trimetoprim
      3. Sulfonamide kerja panjang
        1. Sulfametoksipiridazin           : Lederkyn
        2. Sulfametoksidiazin               :  Durenat
        3. Sulfaperin                            : Pallidin
        4. Sulfadimetoksin                   : Madribon
        5. Sulfametoksipirazin              : Longum
        6. Sulfonamide yang sulit diabsopsi
          1. Sulfaguanol                         : Enterocura
  1. TRIMETROPIM

Trimetropim adalah suatu diamino-pirimidin yang bersifat basa lemah dengan pKa 7,3 dan sedikit larut dalam air. Spectrum bakteri trimetropim sama dengan sulfametoksazol, meskipun daya antibakterinya 20-100 kali lebih kuat dari pada sulfametoksazol.

Mekanisme Kerja

Bentuk folat aktif adalah derivate tetrahidro yang dibentuk melalui reduksi oleh dihidrofolat reduktase. Reaksi enzimatik ini dihambat oleh trimetropim, yang menimbulkan turunnya koenzim folat purin, pirimidin dan sintesis asam amino. Afinitas enzim reduktase bakteri terhadap trimetropim lebih kuat dibandingkan dengan enzim mamalia, yang dapat diperhitungkan sebagai toksisitas selektif obat.

Farmakokinetik 

Trimetropim cepat didistribusi ke dalam jaringan dan kira-kira 40% terikat pada protein plasma dengan adanya sulfametoksazol. Volume distribusi trimetropim hamper 9 kali lebih besar daripada sulfametoksazol. Obat masuk ke CSS dan saliva dengan mudah. Ditemukan dalam kadar tinggi di empedu. Terikat pada protein plasma sampai 60%. Diekskresi melalui urin dalam 24 jam setelah pemberian.

Indikasi Dan Kriteria Penggunaan

Pada pemakaian oral absorpsi cepat dan baik, waktu paruh sekitar 10jam. Trimetropim digunakan pada infeksi saluran urin selama sekurang-kurangnya satu minggu.

Penggunaan Dosis

Trimetroprim digunakan pada infeksi saluran urin selama sekurang-kurangnya satu minggu dengan dosis 400mg. pada terapi jangka panjang digunakan malam hari 100mg.

Efek Samping

Trimetropim dapat menyebabkan defisiensi folat, yaitu berupa anemia megaloblastik, leucopenia, dan granulositopenia. Reaksi ini dapat segera diperbaiki dengan pemberian asam folinat secara simultan yang tidak dapat masuk ke dalam bakteri.

Kontra Indilkasi

Trimetropim tidak digunakan pada trombositopenia dan granulositopenia, anemia megaloblastik selama kehamilan.

Sediaan Dipasaran

  1. Pirimetamin       : Fansidar, Suldox
  2. Trimetropim       : Tobyprim, monotrim
  3. KOTRIMOKSASOL

Trimetropim lebih sering dikombinasi dengan sulfa yaitu sulfametoksazol. Kombinasu yang dihasilkan disebut kotrimoksazol yang menunjukkan aktivitas antimikroba yang lebih besar dibandingkan bila obat ini diberikan secara tunggal. Kombinasi ini dipilih karena kemiripan farmakokinetik dari kedua obat.

Trimetropim dan sulfametoksazol menghambat reaksi enzimatik oblgat pada dua tahap yang berurutan pada mikroba, sehingga kombinasi kedua obat memberikan efek sinergi. Penemuan sediaan kombinasi ini merupakan kemajuan dalam usaha meningkatkan efektivitas klinik antimikroba.

Kombinasi trimetroprim-sulfametoksazol mempunyai spectrum kerja yang luas dibandingkan sulfa.

Mekanisme Kerja

Aktivitas kotrimoksazol sinergistik disebabkan oleh inhibisi dua langkah berturutan pada sintesis asam tetrahidrofolat; sulfametoksazol menghambat penggabungan PABA ke dalam asam folat; dan trimetropimmencegah reduksi dehidrofolat menjadi tetrahidrofolat. Kotrimoksazol menunjukkan aktivitas yang lebih poten dibandingkan sulfametoksazol atau trimetroprim tunggal.

Farmakokinetik

Rasio kadar sulfametoksazol dan trimetroprim yang ingin dicapai dalam darah ialah sekitar 20 : 1. Karena sifatnya yang lipofilik, trimetroprim mempunyai volume distribusi yang lebih besar dari pada sulfametoksazol.

Trimetroprim cepat didistribusi ke dalam jaringan dan kira-kira 40% terikat pada protein plasma dengan adanya sulfametoksazol. Volume distribusi trimetroprim hamper 9 kali lebih besar dari sulfametoksazol. Obat masuk ke CSS dan saliva dengan mudah. Masing-masing komponen juga ditemukan dalam kadar tinggi di dalam empedu. Kira-kira 65% sulfametoksazol terikat pada protein plasma. Sampai 60% trimetroprim dan 25-50% sulfametoksazol diekskresi melalui urin dalam 24 jam setelah pemberian. Dua-pertiga dari sulfonamide tidak mengalami konjugasi. Metabolit trimetroprim ditemukan juga di urin.

Indikasi Dan Kriteria Penggunaan

Dengan hambatan metabolism asam folat pada dua tempat maka terjadi efek sinergis karena spectrum kerja diperluas dan berkurangnya bahaya terjadinya resistensi dibandingkan dengan monoterapi dengan trimetroprim saja, maka kombinasi trimetroprim dan sulfonamide digunakan pada berbagai infeksi bakteri. Misalnya pada pneumonia pneumokistis karnii (PCP), infeksi genital, infeksi respiratorius, infeksi gastrointestinal, dan infeksi prostat dan traktus urinarius.

Penggunaan Dosis

  1. Kotrimoksazol tersedia dalam bentuk tablet oral mengandung Sulfametoksazol 400mg dan Trimetroprim 80mg serta Sulfametoksazol 800mg dan Trimetroprim 160mg
  2. Untuk anak tersedia juga bentuk suspense oral mengandung Sulfametoksazol 200mg dan Trimetroprim 40mg/5ml
  3. Tablet pediatric yang mengandung Sulfametoksazol 100mg dan Trimetroprim 20mg
  4. Pemberian IV sediaan infuse mengandung Sulfametoksazol 400mg dan Trimetroprim 80mg/5ml

Dosis dewasa umumnya ialah Sulfametoksazol 800mg dan Trimetroprim 160mg setiap 12 jam.

Efek Samping

Reaksi pada kulit, saluran cerna (Seperti mual, muntah, serta glositis dn stomatitis jarang terjadi), darah (anemia megaloblastik leucopenia, dan trombositopenia), pasien HIV (pasien yang dengan tanggapan imun yang lemah dengan pneumonia Pneumocystis lebih sering mengalami demam).

Kontra Indilkasi

Kombinasi ini tidak digunakan pada kerusakan parenkhim hati dan ginjal yang parah, hipersensitivitas terhadap sulfa, selama kehamilan dan bayi premature serta bayi baru lahir.

Sediaan Dipasaran

Kotrimoksazol : Contrimoksazol, Bimactrim, Bactrizol, Decatrim, Hufacid

DAFTAR PUSTAKA

Ganiswarna, S ; 1995. Farmakologi dan Terapi. UI Press . Jakarta

Mustcher. 1991. Dinamika Obat. ITB. Bandung

Mycek, J.Mary, dkk. 2001. Farmakologi Ulasan Bergambar. Widya Medika. Jakarta

Sutedjo. 2008. Mengenal Obat-Obatan Secara Mudah dan Aplikasi Dalam Perawatan. Amara Books. Yogyakarta

Tjay, Tan Hoan; 2002. Obat – Obat Penting. PT Elex Media Komputindo. Jakarta.

^Klik Me^

Tanya – Jawab


TANYA???

ketika kurasakan sudah ada ruang di hatiku yang kau sentuh dan ketika kusadari sudah tak selalu indah cinta yang ada

mungkin memang ku yang harus mengerti bila ku bukan yang ingin kau miliki.
salahkah ku bila kaulah yang ada di hatiku? adakah ku singgah di hatimu? mungkinkah kau rindukan adaku? adakah ku sedikit di hatimu?

bilakah ku mengganggu harimu, mungkin kau tak inginkan adaku …
akankah ku sedikit di hatimu?

bila memang ku yang harus mengerti…
mengapa cintamu tak dapat kumiliki? salahkah ku bila kaulah yg ada di hatiku?

kau yg ada di hatiku…

bila cinta kita takkan tercipta, ku hanya sekedar ingin tuk mengerti
adakah diriku singgah hatimu? adakah ku di hatimu?

 

JAWAB!!!

kadang cinta tak selalu mengikuti harapanmu. karena aku tak punya rasa seperti perasaan mu kepada ku. maaf kan ku hanya bisa menjadi teman biasa.

Namun ku tak pernah melarang kau jatuh cinta padaku…

Kuterima bila dirimu tetap memberi canda tawa mu. Walau aku tak punya rasa seperti perasaanmu kepadaku.

Namun ku tak pernah melarang kau jatuh cinta padaku…

Kau menyayangiku…

Lirik lagu : Maliq and The Essensial (Ketika) dan Calvin Jeremy (Silahkan Mencintaiku)

 

 

 

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.